• Kamis, 7 Juli 2022

'Modal Dengkul', E-Warong BSP di Baksel Akui Dijatah Rp9.000/KPM oleh Supplier

- Senin, 13 April 2020 | 18:49 WIB

LEBAK - Sejumlah pemilik agen e-warong program Bantuan Sosial Pangan (BSP) di Lebak Selatan mengakui bahwa usahanya belum mandiri. Melainkan masih ketergantungan kepada perusahaan penyedia barang atau supplier.

Keuntungan yang didapat oleh e-warong dari penjualan sembako, yakni Rp9 ribu sampai Rp 13 ribu dari setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) BSP yang melakukan transaksi. Keuntungan itu ditentukan atau atas kebijakan supplier.

"Saya diberikan laba (keuntungan) oleh supplier Rp9 ribu dari setiap KPM yang melakukan transaksi. Ada sekitar 185 KPM yang melakukan transaksi di agen yang saya kelola," kata salah seorang pemilik e-warong di Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak, Senin 13/4/2020.

Polling Calon Ketua FWM: https://pollie.app/tpojb

Baca Juga: https://poros.id/5563/e-warong-di-lebak-didorong-mandiri-tidak-ketergantungan-ke-supplier.html

Berbeda halnya dengan pemilik e-warong BSP di Kecamatan Cihara dan Kecamatan Malingping. Mereka mengaku diberikan keuntungan oleh supplier Rp13 ribu dari setiap KPM.

"Di desa saya ada sekitar 400 KPM. Karena ada dua agen e-warong, maka transaksi KPM terbagi. Yang transaksi di agen saya tiap bulan paling 40 sampai 60 KPM," kata pemilik e-warong di salah satu desa di Kecamatan Cihara.

"Saya juga dapat Rp13 ribu dari setiap KPM. Ada dua agen di desa kami. Yang transaksi di agen saya sekitar 250 KPM," kata pemilik e-warong di Kecamatan Malingping.

Sementara sistem pembayaran ke supplier, terang mereka, dibayar dari uang hasil penjualan ke KPM alias "jurus dagang modal dengkul". Prosesnya, saldo (uang) yang ada di "Kartu Sembako" milik KPM ditransaksikan melalui mesin EDC (Electronik Data Capture) yang disediakan di e-warong.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

X