• Kamis, 2 Desember 2021

Ekonom Senior Faisal Basri Bongkar Tidak Semua TKA China Tenaga Ahli, PT. Cemindo Gemilang Berbohong?

- Jumat, 15 Oktober 2021 | 09:30 WIB
TKA China PT. Cemindo Gemilang ribut dengan pekerja lokal beberapa waktu lalau (Dok. Poros.id)
TKA China PT. Cemindo Gemilang ribut dengan pekerja lokal beberapa waktu lalau (Dok. Poros.id)
POROS.ID - Teka teki dan kontroversi soal keahlian tenaga kerja asing (TKA) asal China diungkap oleh ekonom senior Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri.
 
Selama ini, baik pihak perusahaan maupun pemerintah selalu mengklaim bahwa para TKA China yang dipekerjakan di banyak perusahaan besar di Indonesia merupakan tenaga ahli.
 
Seperti halnya di sebuah perusahaan produsen semen yang berada di bagian Selatan Provinsi Banten, PT. Cemindo Gemilang. Di sana ada ratusan TKA China yang dipekerjakan.
 
 
Diketahui, pabrik semen merah putih yang berlokasi di Desa Darmasari, Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak, Banten itu mulai dibangun pada 2013 lalu.
 
Dari awal pembangunan hingga mulai beroperasi pada Desember 2015 lalu, pabrik semen terpadu itu sudah memperkerjakan ratusan tenaga kerja asing atau TKA China.
 
Hal itu sebagaimana disampaikan oleh 
CSR Manager PT Cemindo Gemilang (saat itu) Sigit Indrayana dalam keterangan tertulisnya pada 30 Juni 2016.
 
 
Diakui Sigit, hingga saat itu pihaknya telah mempekerjakan sebanyak 400 tenaga kerja asing asal China yang direkrut melalui PT. Sinoma dan China Harbour.
 
Sigit mengklaim, seluruh TKA itu merupakan tenaga ahli atau pekerja yang memiliki keahlian khusus. Hal itupun seolah diamini oleh pemerintah.
 
Pemerintah berulang kali mengklaim bahwa TKA China yang didatangkan merupakan tenaga ahli, bukan pekerja biasa.
 
 
Klaim PT. Cemindo Gemilang itupun kerap menuai bantahan dari masyarakat, khususnya masyarakat Bayah, Kabupaten Lebak.
 
Bahwa menurut mereka, TKA China yang bekerja di PT. Cemindo Gemilang tidak semuanya merupakan tenaga ahli. Melainkan sebagian banyak tenaga kerja kasar.
 
Masyarakat menyesalkan, lantaran untuk pekerja kasar seperti ngaduk atau ngecat bisa dikerjakan oleh pekerja lokal atau warga setempat.
 
Baca Juga Berita Terkait TKA PT. Cemindo Gemilang:
 
 
Beredar Video Ricuh TKA Vs Pekerja Lokal di PT.  Cemindo Gemilang
 
 
Kontroversi itu akhirnya dibongkar oleh ekonom senior UI, Faisal Basri. Namun memang dalam hal ini dia tidak menyoroti perusahaan-perusahaan tertentu, melainkan secara umum.
 
Faisal Basri dengan tegas membantah klaim semacam itu yang juga kerap disampaikan oleh pemerintah. Meski ada tenaga ahlinya, namun menurutnya tidak semua.
 
"Apakah mereka tenaga ahli? Ya tidak.
Jabatan mereka itu ada petugas keamanan, pekerja bongkar muat, koki, pengemudi (ekskavator, truk derek, forklift), manajer gudang, ahli statistik, montir, operator," kata Faisal Basri.
 
Baca Juga:
 
Faisal Basri melontarkan pernyataan itu pada diskusi virtual bertajuk 'Waspada Kerugian Negara dalam Investasi Pertambangan' yang disiarkan di kanal Youtube CORE INDONESIA pada 12 Oktober 2021.
 
Bantahan Faisal Basri terhadap klaim tersebut, baerawal saat dirinya menceritakan masuknya tenaga kerja asing ke Indonesia selama pandemi Covid-19.
 
Ia pun mengungkap rata-rata gaji TKA China di Indonesia. Jika melihat dari nominalnya, kata dia, bukanlah gaji seorang tenaga ahli.
 
"Gaji mereka itu Rp17 juta sampai Rp54 juta," ucapnya.***

Editor: Rahmat Hidayat

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X